BAB I
PENDAHULUAN
Di Asia Tenggara, Islam merupakan
kekuatan sosial yang patut diperhitungkan,karena hampir seluruh negara yang ada
di Asia Tenggara penduduknya, baik mayoritas ataupun minoritas memeluk agama Islam. Misalnya, Islam menjadi
agama resmi Negara federasi Malaysia, Kerajaan Brunei Darussalam, negara Indonesia
(penduduknya mayoritas atau sekitar 90% beragama Islam), Burma (sebagian kecil
penduduknya beragama Islam), Republik Filipina, Kerajaan Muangthai, Kampuchea, dan Republik
Singapura[1].
Dari segi jumlah, hampir terdapat 300
juta orang di seluruh Asia Tenggara yang mengaku sebagai Muslim. Berdasar kenyataan ini, Asia Tenggara
merupakan satu-satunya wilayah Islam yang terbentang dari Afrika Barat Daya hingga Asia
Selatan, yang mempunyai penduduk Muslim terbesar. Asia Tenggara dianggap
sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama lslamnya.Termasuk wilayah ini
adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah timur lndia sampai
lautan Cina dan mencakup lndonesia, Malaysia dan Filipina.
Sebagai
seorang muslim yang tinggal di kawasan ASEAN hendaklah kita mengetahui tentang
sejarah masuknya Islamdi kawasan ASEAN. Akan tetapi ,kami tidak dapat menulis semua
sejarah itu disini, karenaitu dari negara di ASEAn,kami hanya akan membahas 4
saja yaitu masuknya Islam di Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Muangthai. adapun
untuk brunei dan Singapura tidak jauh beda dengan di Malaysia.
BAB II
PERADABAN ISLAM DI ASIA TENGGARA
A. Sejarah Masuknya Islam di Asean
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan
kaum pedagang. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang
disebarluaskan melalui penaklukan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan
damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat
Asia Tenggara.
Mengenai
kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya didahului oleh interaksi
antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India,
Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum
Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang
berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar
Pesisir. Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang
singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir. Berikut
tentang sejarah masuknya Islam di negara negara ASEAN.
B. Perkembangan Islam di
Indonesia
a) Awal Masuknya
Islam di Indonesia
Ketika
Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti Hindu dan
Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan di beberapa wilayah
kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan
Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di
Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun
Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena
Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara
manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting
juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah
syahadat dan tidak ada paksaan.
Tentang
kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “ masuknya
Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke
Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi. Menurut
sumber lain menyebutkan bahwa Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada
masa Khulafaur Rasyidin (masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab,
Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), disebarkan langsung dari Madinah.
b)
Cara Masuknya
Islam di Indonesia
Islam
masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan.Adapun cara
masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain :
1. Perdagangan
Jalur
ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang
dengan orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan
Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama
dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan
duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam.
Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama Islam.
2. Kultural
Artinya
penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan,
sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan
Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang. Ia mengembangkan wayang kulit,
mengisi wayang yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Giri menciptakan
banyak sekali mainan anak-anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak
suweng dan lain-lain.
3. Pendidikan
Pesantren
merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam
pengembangan Islam di Indonesia. Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam
diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang
yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran
pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti
Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara. Dan sampai
sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali
penyebaran Islam di seluruh Indonesia.
4. Kekuasaan politik
Artinya
penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para
Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan
menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga
para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi dan tolong menolong dalam
melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya
negara nasional Indonesia dimasa mendatang.
c)
Perkembangan
Islam di Beberapa Wilayah Nusantara
1. Di Sumatra
Wilayah Nusantara yang mula-mula dimasuki Islam adalah
pantai barat pulau Sumatra dan daerah Pasai yang terletak di Aceh utara yang
kemudian di masing-masing kedua daerah tersebut berdiri kerajaan Islam yang
pertama yaitu kerajaan Islam Perlak dan Samudra Pasai.
Menurut
keterangan Prof. Ali Hasmy dalam makalah pada seminar “Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Aceh”[2]
yang digelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Islam yang pertama adalah
kerajaan Perlak. Namun ahli sejarah lain telah sepakat, Samudra Pasailah
kerajaan Islam yang pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama adalah
Sultan Malik Al-Saleh (memerintah dari tahun 1261 s.d 1297 M). Sultan Malik
Al-Saleh sendiri semula bernama Marah Silu. Setelah mengawini putri raja Perlak
kemudian masuk Islam berkat pertemuannya dengan utusan Syarif Mekkah yang
kemudian memberi gelar Sultan Malik Al-Saleh.
Kerajaan Pasai sempat
diserang oleh Majapahit di bawah panglima Gajah Mada, tetapi bisa dihalau. Ini
menunjukkan bahwa kekuatan Pasai cukup tangguh dikala itu. Baru pada tahun 1521
di taklukkan oleh Portugis dan mendudukinya selama tiga tahun. Pada tahun 1524
M Pasai dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayat Syah. Selanjutnya kerajaan
Samudra Pasai berada di bawah pengaruh keSultanan Aceh yang berpusat di Bandar
Aceh Darussalam (sekarang dikenal dengan kabupaten Aceh Besar).
Munculnya kerajaan baru
di Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, hampir bersamaan dengan
jatuhnya kerajaan Malaka karena pendudukan Portugis. Dibawah pimpinan Sultan
Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim kerajaan Aceh terus mengalami kemajuan
besar. Saudagar-saudagar muslim yang semula berdagang dengan Malaka memindahkan
kegiatannya ke Aceh. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa
pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam ( 1607 - 1636).
2. Di
Jawa
Benih-benih kedatangan Islam ke tanah Jawa sebenarnya
sudah dimulai pada abad pertama Hijriyah atau abad ke 7 M. Hal ini dituturkan
oleh Prof. Dr. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam, bahwa pada tahun
674 M sampai tahun 675 M.
sahabat Nabi,
Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (Kerajaan Kalingga)
menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyah saat itu baru penjajagan saja,
tapi proses dakwah selanjutnya dilakukan oleh para da’i yang berasal dari
Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab
saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak
dengan Jawa dipihak lain sudah begitu pesat.
Adapun
gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Songo,
yaitu:
a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan
Gresik
b. Raden Ali Rahmatullah (Sunan
Ampel)
c. Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin
atau Raden Paku)
d. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
e. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
f. Sunan Drajat.
g. Syarif Hidayatullah
h. Sunan Kudus
i. Sunan Muria
Diparuh
awal abad 16 M, Jawa dalam genggaman Islam. Penduduk merasa tentram dan damai
dalam ayoman keSultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar Al
Fatah atau Raden Patah. Merekapun memiliki kepastian hidup bukan karena wibawa
dan perbawa sang Sultan, tetapi karena daulah hukum yang pasti yaitu syari’at
Islam “Salokantara”
dan “Jugul Muda” itulah dua kitab undang-undang Demak yang berlandaskan
syari’at Islam. Dihadapan peraturan negeri pengganti Majapahit itu, semua
manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-Sultan Demak
sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para Ulama atau Wali. Para Ulama itu
berperan sebagai tim kabinet atau merangkap sebagai dewan penasehat Sultan.
Dalam versi lain dewan wali sanga dibentuk sekitar 1474
M. oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), membawahi Raden Hasan, Maftuh Ibrahim,
Qasim (Sunan Drajat) Usman Haji (ayah Sunan Kudus, Raden Ainul Yakin (Sunan
Gresik), Syekh Sutan Maharaja Raden Hamzah, dan Raden Mahmud. Beberapa
tahun kemudian Syekh Syarif Hidayatullah dari Cirebon bergabung di dalamnya.
Sunan Kalijaga dipercaya para wali sebagai muballig keliling. Disamping
wali-wali tersebut, masih banyak Ulama yang dakwahnya satu kordinasi dengan
Sunan Ampel hanya saja, sembilan tokoh Sunan Wali Sanga yang dikenal selama ini
memang memiliki peran dan karya yang menonjol dalam dakwahnya.
3.
Di
Sulawesi
Ribuan
pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke
pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan
kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes
atau Sulawesi. Menurut catatan company dagang Portugis pada tahun 1540 saat
datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah ditemui pemukiman muslim di beberapa
daerah. Meski belum terlalu banyak, namun upaya dakwah terus berlanjut
dilakukan oleh para da’i di Sumatra, Malaka dan Jawa hingga menyentuh raja-raja
di kerajaan Gowa dan Tallo atau yang dikenal dengan negeri Makasar, terletak di
semenanjung barat daya pulau Sulawesi
Kerajaan
Gowa ini mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate dibawah pimpinan
Sultan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i
bernama Datuk Ri Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada tanggal 22
September 1605 Karaeng Tonigallo, raja Gowa yang pertama memeluk Islam yang
kemudian bergelar Sultan Alaudin Al Awwal (1591-1636 ) dan diikuti oleh perdana
menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa.
4. Di Kalimantan
Islam
masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo melalui tiga jalur.
Jalur pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan Islam setelah Perlak
dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis kian membuat dakwah semakin
menyebar sebab para muballig dan komunitas muslim kebanyakan mendiamai pesisir
barat Kalimantan.
Jalur
kedua, Islam datang disebarkan oleh para muballig dari tanah Jawa. Ekspedisi
dakwah ke Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak
mengirimkan banyak Muballig ke negeri ini. Para da’i tersebut berusaha mencetak
kader-kader yang akan melanjutkan misi dakwah ini. Maka lahirlah ulama besar,
salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Jalur
ketiga para da’i datang dari Sulawesi (Makasar) terutama da’i yang terkenal
saat itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.
5. Di Maluku
Kepulauan Maluku terkenal di dunia sebagai penghasil
rempah-rempah, sehingga menjadi daya tarik para pedagang asing, tak terkecuali
para pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa, Malaka atau dari manca negara. Hal
ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di kepulauan ini.
Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke 15 atau
sekitar tahun 1440 dibawa oleh para pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa
(terutama para da’i yang dididik oleh para Wali Sanga di Jawa). Tahun
1460 M, Vongi Tidore, raja Ternate masuk Islam. Namun menurut H.J De Graaft
(sejarawan Belanda) bahwa raja Ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal
Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke kerajaan-kerajaan yang
ada di Maluku. Tetapi diantara sekian banyak kerajaan Islam yang paling menonjol
adalah dua kerajaan , yaitu Ternate dan Tidor
Ø
Peranan Umat
Islam dalam Mengusir Penjajah.
Ketika
kaum penjajah datang, Islam sudah mengakar dalam hati bangsa Indonesia, bahkan
saat itu sudah berdiri beberapa kerajaan Islam, seperti Samudra Pasai, Perlak,
Demak dan lain-lain. Jauh sebelum mereka datang, umat Islam Indonesia sudah
memiliki identitas bendera dan warnanya adalah merah putih. Ini terinspirasi
oleh bendera Rasulullah saw. yang juga berwarna merah dan putih. Rasulullah saw
pernah bersabda :” Allah telah menundukkan pada dunia, timur dan barat. Aku
diberi pula warna yang sangat indah, yakni Al-Ahmar dan Al-Abyadl, merah dan
putih “. Begitu juga dengan bahasa Indonesia. Tidak akan bangsa ini mempunyai
bahasa Indonesia kecuali ketika ulama menjadikan bahasa ini bahasa pasar, lalu
menjadi bahasa ilmu dan menjadi bahasa jurnalistik.
Beberapa ajaran Islam
seperti jihad, membela yang tertindas, mencintai tanah air dan membasmi
kezaliman adalah faktor terpenting dalam membangkitkan semangat melawan
penjajah. Bisa dikatakan bahwa hampir semua tokoh pergerakan, termasuk yang
berlabel nasionalis radikal sekalipun sebenarnya terinspirasi dari ruh ajaran
Islam. Sebagai bukti misalnya Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) tadinya
berasal dari Sarekat Islam (SI); Soekarno sendiri pernah jadi guru Muhammadiyah
dan pernah nyantri dibawah bimbingan Tjokroaminoto bersama S.M Kartosuwiryo
yang kelak dicap sebagai pemberontak DI/TII; RA Kartini juga sebenarnya
bukanlah seorang yang hanya memperjuangkan emansipasi wanita. Ia seorang
pejuang Islam yang sedang dalam perjalanan menuju Islam yang kaaffah. Ketika
sedang mencetuskan ide-idenya, ia sedang beralih dari kegelapan (jahiliyah)
kepada cahaya terang (Islam) atau minaz-zulumati ilannur (habis gelap terbitlah
terang). Patimura seorang pahlawan yang diklaim sebagai seorang Nasrani
sebenarnya dia adalah seorang Islam yang taat. Tulisan tentang Thomas
Mattulessy hanyalah omong kosong. Tokoh Thomas Mattulessy yang ada adalah
Kapten Ahmad Lussy atau Mat Lussy, seorang muslim yang memimpin perjuangan
rakyat Maluku melawan penjajah. Demikian pula Sisingamangaraja XII menurut
fakta sejarah adalah seorang muslim.
C. Sejarah Masuknya Islam Di Filipina
Islam di asia menurut Dr. Hamid
mempunyai 3 bentuk penyebaran. Pertama, penyebaran Islam melahirkan mayoritas
penduduk. Kedua, kelompok minoritas Islam. Ketiga, kelompok negera negara Islam
tertindas.
“Dalam bukunya yang berjudul Islam
Sebagai Kekuatan International, Dr. Hamid mencantumkan bahwa Islam di
Philipina merukan salah satu kelompok minoritas diantara negara negara yang lain. Dari statsitk
demografi pada tahun 1977, Masyarakat Philipina berjumlah 44. 300.000 jiwa.
Sedangkan jumlah masyarakat Muslim 2.348.000 jiwa. Dengan prosentase 5,3%
dengan unsur dominan komunitas Mindanao dan mogondinao.”[3]
Hal itu pastinya tidak lepas dari
sejarah latar belakang Islam di negeri philipina. Bahkan lebih dari itu, bukan
hanya penjajahan saja, akan tetapi konflik internal yang masih berlanjut sampai
saat ini.
Sejarah masuknya Islam masuk ke
wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao pada tahun 1380
M. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum dan Raja Baguinda
tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan
tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari
Minangkabau (Sumatra Barat). Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah
berhasil mendakwahkan Islam di kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil
kerja kerasnya juga, akhirnya Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari
Manguindanao memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini
mulai dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan peraturan
hukum yaitu Manguindanao Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj
dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab. Manguindanao
kemudian menjadi seorang Datuk yang berkuasa di propinsi Davao di bagian
tenggara pulau Mindanao. Setelah itu, Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian
utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya. Sepanjang garis pantai kepulauan
Filipina semuanya berada dibawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam yang
bergelar Datuk atau Raja. Menurut ahli sejarah kata Manila (ibukota Filipina
sekarang) berasal dari kata Amanullah (negeri Allah yang aman). Pendapat ini
bisa jadi benar, mengingat kalimat tersebut banyak digunakan oleh masyarakat
sub-kontinen.
Sejak masuknya orang-orang Spanyol
ke Filipina, pada 16 Maret 1521 M, penduduk pribumi telah mencium adanya maksud
lain dibalik “ekspedisi ilmiah” Ferdinand de Magellans. Ketika kolonial Spanyol
menaklukan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan berarti, tidak
demikian halnya dengan wilayah selatan. Mereka justru menemukan penduduk
wilayah selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani dan pantang menyerah.
Tentara kolonial Spanyol harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer
untuk mencapai Mindanao-Sulu (kesultanan Sulu takluk pada tahun 1876 M).
Menghabiskan lebih dari 375 tahun masa kolonialisme dengan perang berkelanjutan
melawan kaum Muslimin. walaupun demikian, kaum Muslimin tidak pernah dapat
ditundukan secara total. Selama masa kolonial, Spanyol menerapkan politik
devide and rule (pecah belah dan kuasai) serta mision-sacre (misi suci
Kristenisasi) terhadap orang-orang Islam. Bahkan orang-orang Islam
di-stigmatisasi (julukan terhadap hal-hal yang buruk) sebagai “Moor” (Moro).
Artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang
bunuh). Sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-orang Islam yang
mendiami kawasan Filipina Selatan tersebut. Tahun 1578 M terjadi perang besar
yang melibatkan orang Filipina sendiri. Penduduk pribumi wilayah Utara yang
telah dikristenkan dilibatkan dalam ketentaraan kolonial Spanyol, kemudian di
adu domba dan disuruh berperang melawan orang-orang Islam di selatan. Sehingga
terjadilah peperangan antar orang Filipina sendiri dengan mengatasnamakan “misi
suci”.
D. Sejarah Islam di Malaysia
1. Masuknya Islam di Malaysia
Pengakuan Islam di bagian dunia telah
menjadi fakta sejak CE 674 (empat puluh dua tahun setelah wafatnya Nabi
Muhammad SAW ketika penguasa Umayyah Muawiyah berkuasa di Damaskus. Dua ratus tahun kemudian pada tahun 878 Masehi Islam dianut
oleh orang-orang di sepanjang pantai Semenanjung Malaysia termasuk pelabuhan
Kelang yang terkenal pusat perdagangan. Sebelum kedatangan Islam, orang Melayu
pribumi memeluk agama kuno dengan berbagai bentuk keyakinan dengan beberapa
milik penduduk Hindu / Budha agama. Hidup ini terstruktur dan diatur dengan
cara-cara yang menunjukkan pengaruh lebih dari satu agama. Hal ini dapat
dilihat tidak hanya dalam pola-pola budaya malay tetapi juga bagian dari
'kekuatan' struktur pejabat negara dan pangeran.
Kejayaan Malaka dapat dibina lagi
sedikit demi sedikit oleh Sultan Aludin Syah I, sebagai pengganti Muhammad
Syah. Kemudian pusat pemerintahannya dari Kampar ke Johor (Semenanjung Malaka).
Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai Sultan Johor yang pertama dan negeri
Johor makin bertambah
ramai dengan datangnya para pedagang dan pendatang.
Pada tingkat politik, penguasa kerajaan dan kepala negara di sebagian
besar masyarakat di dunia malaysia memeluk agama Islam. Orang-orang terkesan dan tertarik oleh
ketentuan dalam Alquran dan Hadis bahwa manusia harus digolongkan atas dasar
kesetaraan interpersonal.
2.
Penyebaran
Islam
Setelah pengenalan awal Islam, agama ini disebarkan oleh para
sarjana Muslim lokal atau ulama 'dari satu kabupaten yang lain. Praktik normal
mereka adalah untuk membuka pusat pelatihan agama disebut "pondok"
atau pondok dari ruang tidur kecil yang dibangun bagi para siswa.
Selain
memberi kuliah di rumah-rumah, rumah doa, atau masjid, mereka juga melakukan
tugas-tugas seperti bekerja di ladang padi, berkebun dan craftwork dan
pekerjaan lain sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Peran ulama ini 'tidak hanya itu seorang guru tetapi
juga bahwa dari penasihat bagi keluarga dan masyarakat desa. Peran yang
mereka mainkan cukup luas dengan alasan salah satu keahlian dan kemampuan
mereka di lebih dari satu bidang kegiatan manusia. Setelah lulus, murid-murid akan kembali ke tanah air mereka, sering di
beberapa sudut terpencil negara, membentuk sebuah mata rantai antara satu ulama
'dan lainnya.
Islam
di Malay Archipelago pada umumnya dan Malaysia khususnya mengikuti Madhab
Syafi'i (aliran pemikiran). Namun, ada banyak umat Islam di Malaysia yang tidak
mengikuti sekolah tertentu. Di Perlis,
konstitusi negara menentukan bahwa Perlis mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah dan
tidak Madhab tertentu. Banyak umat Islam di Perlis karenanya tidak mengikuti
Madhab, seperti halnya dengan para pengikut dan anggota Organisasi Muhammadiyah
di Indonesia.
Namun
ada, sejumlah umat Islam yang merasa bahwa sekolah-sekolah pondok tidak bisa
menghadapi tantangan lembaga pendidikan kolonial. Dalam
rangka untuk mengatasi masalah, Madrasatul Mashoor Al-Islamiyah didirikan di
Pulau Pinang pada tahun 1916 dengan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa
pengantar. Madrasah mengajarkan Fiqh serta mata pelajaran sekuler.
Sampai sekarang perkembangan agama Islam di Malaysia
makin bertambah maju dan pesat, dengan bukti banyaknya masjid-masjid yang
dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan jamaah haji yang begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa
perkemabangan Islam di Malaysia, tidak ada hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam
konstitusi negaranya bahwa Islam merupakan agama resmi negara. Di kelantan,
hukum hudud (pidana Islam) telah diberlakukan sejak 1992. kelantan adalah
negara bagian yang dikuasai partai oposisi, yakni Partai Al-Islam se-Malaysia (PAS)
yang berideologi Islam. Dalam pemilu 1990 mengalahkan UMNO dan PAS dipimpin
oleh Nik Mat Nik Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar Kelantan.
E. Islam di Muangthai
1.
Latar Belakang Muangthai
Di Muangthai terdapat sekitar 2,2 juta
kaum muslimin atau 4 % dari penduduk umumnya. Muangthai dibagi menjadi 4 propinsi, yang paling banyak
menganut Islam yaitu di propinsi bagian selatan tepatnya di kota Satun, Narathiwat,
Patani dan Yala. Pekerjaan kaum muslimin Muangthai cukup beragam, namun yang paling dominan
adalah petani, pedagang kecil, buruh pabrik, dan pegawai pemerintahan. Agama
Islam di Muangthai merupakan minoritas yang paling kuat di daerah Patani pada awal
abad ke-17 pernah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara dan
menghasilkan ulama besar seperti Daud bin Abdillah bin Idris al-Fatani.
2.
Masyarakat
Masyarakat Melayu sangat terisolasi dari
masyarakat Muangthai pada umumnya dan karakteristik sosial budayanya cenderung untuk mengisolasikan.
Istilah masyarakat Muslim hampir sinonim dengan masyarakat pedesaan. Daerah-daerah
perkotaan secara dominan merupakan daerah Muangthai Budhis, yang berhubungan dengan
birokrasi negara dan para pedagang serta pemilik tokoh Cina. Hanya ada dua
alasan bagi orang Muslim pedesaan Melayu untuk berhubungan dengan orang Muslim bukan
melayu di daerah perkotaan. Oleh karena itu, usaha-usaha kecil di desa
dimiliki oleh orang-orang Muslim Melayu sendiri. Dan untuk berhubungan atau berurusan dengan
pemerintahan harus memakai cara penghubung atau perantara, maka kesempatan
diadakannya hubungan antar pribadi antara mayoritas Melayu Muslim dan non
Muslim di daerah itu sangat terbatas. Para pejabat pemerintah tidak mempunyai banyak
kesempatan untuk mengetahui dari sifat sebenarnya terhadap masalah-masalah yang dihadapi
oleh penduduk desa. Penduduk desa menyerahkan persoalan dagangnya dengan para
saudagar Cina dipemilik toko di desa. Lingkungan sosialnya cenderung kecil dan
mereka tidak merasa perlumemperluas jaringan sosialnya.
3.
Penyebaran Islam di daerah Patani
Pada dasarnya yang menyebabkan tetap
kuatnya kesetiaan rakyat dan rasa keterikatan kultural mereka dengan Patani adalah peran historisnya
sebagai pusat Islam di Asia Tenggara. Bahkan kerabat-kerabat raja dan kaum bangsawan
tetap merupakan symbol kemerdekaan Patani selama banyak dasawarsa, setelah negeri
itu secara formal dimasukkan ke dalam kerajaan Muangthai dalam tahun 1901. Pada
tahun 1613 Patani masuk Islam sebelum Malaka, secara tradisional dikenal sebagai “
Darussalam” (tempat damai) pertama di kawasan itu. Sejalan dengan tradisi antara agama
dan system pemerintahan di Asia Tenggara. Di kalangan pemegang kekuasaan
untuk menerima“idiologi yang memberi legitimasi” sebelum rakyat sendiri
memeluknya. Maka Islam dianut oleh keluarga para raja.
Penyebaran Islam di Muangthai melalui
perdagangan, di sana Islam tidak berhasil mendesak pengaruh Budha secara kultural maupun politik. Karena
Islam pada saat itu masih sedikit. Kaum muslimin yang menjadi mayoritas menghadapi
masalah, namun tak lama kemudian Muslim minoritas bisa berperan penting dalam
kehidupan nasional mereka. Karena kemajuan yang telah dicapai di bidang pendidikan.
Dan pendidikan inilah faktor terpenting bagi kemajuan kaum muslimin, contohnya
berhasilnya Surin Pitsuan dengan nama Muslim Abdul Halim bin Ismail, beliau mendapat gelar
kesarjanaan tertinggi di bidang ilmu politik, beliau juga seorang intelektual Muslim
berhaluan modernis dan moderat. Surin Pitsuan berfikir bahwa selama ini sistem negara
Muangthai berdasarkan budhisme terbukti dalam keanggotaannya dalam parlemen.
4. Perkembangan
Keagamaan dan Peradaban di Muangthai
Islam di Muangthai adalah agama
minoritas hanya 4 %, selain itu masyarakat Muangthai menganut agama Budha dan Hindu. Orang Melayu Muslim
merupakan golongan minoritas terbesar ke-dua di Muangthai, sesudah golongan
Cina. Mereka tergolong Muslim Sunni dari madzab Syafi’I yang merupakan madzab
paling besar dikalangan umat Islam di Muangthai. Ikatan-ikatan budayanya
telah membantu memupuk suatu perasaan keterasingan dikalangan
mereka terhadap lembaga-lembaga sosial, budaya, dan politik Muangthai.. Dan Perkembangan
Islam di Muangthai telah banyak membawa peradaban-peradaban,misalnya :
1)
Di
Bangkok terdaftar sekitar 2000 bangunan masjid yang sangat megah dan indah.
2)
Golongan
Tradisional dan golongan ortodoks telah menerbitkan majalah Islam “Rabittah”.
3)
Golongam modernis berhasil menerbitkan jurnal “Al Jihad”.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak terlepas dari peranan kaum
pedagang Muslim. Hingga kontrol ekonomi pun di monopoli oleh
mereka. Disamping itu pengaruh ajaran Islam sendiripun telah mempengaruhi berbagai
aspek kehidupan Masyarakat Asia Tenggara. Islam mentransformasikan budaya masyarakat yang telah di-Islamkan
di kawasan ini, secara bertahap. Islam dan etos yang lahir darinya muncul
sebagai dasar kebudayaan.Namun dari masyarakat yang telah di-Islamkan dengan
sedikit muatan lokal. Islamisasi dari kawasan Asia Tenggara ini membawa persamaan di bidang
pendidikan. Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kaum bangsawan. Tradisi pendidikan
Islam melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Bahasa Melayu secara khusus
dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Asia Tenggara dan menjadi media pengajaran
agama. Bahasa Melayu juga punya peran yang penting bagi pemersatu seluruh
wilayah itu.Sejumlah karya bermutu di bidang teologi, hukum,
sastra dan sejarah, segera bermunculan.
B.
Kritik dan saran
Mengingat bahwa Islam masuk ke ASEAN
secara damai, maka hendaklah kita menjaga suasanan itu seterusnya. Agar Isalm tidak
dicap sebagai agama yang anarkis seperti yang banyak di isukan saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Http://hbis.wordpress.com/2007/12/11/perkembangan-islam-di-dunia/diakses tanggal
21 febuari 2010
http://www.voa-islam.com/news/se-asia/2009/07/09/175/sejarah-asia-tenggara (3awal-mula-masuknya-peradaban-islam/ diakses
tanggal 1 maret 2010
http://cintailmoe.wordpress.com/2008/04/07 / sejarah-islam-di-filipina / diakses tanggal 1 maret
2010
M.Abdul Karim, Sejarah Peradaban Pemikiran Islam,Yogyakarta:Pustaka
Book Publisher,2007
M.A.Shaban, Islamic History, London:Cambridge
University Press,1971
[1] Muzani,1991: 23
[2] M.A.Shaban,islamic history,london:cambridge university
press,1977.h.35
[3]
M.Abdul karim,sejarah dan pemikiran islam,yogyakarta:pustaka book
publisher,2007.h.37


INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN NYOMAN DI NMR 0 8 5 1 4 5 2 9 7 1 6 7 JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT
BalasHapusINGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN NYOMAN DI NMR 0 8 5 1 4 5 2 9 7 1 6 7 JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT
INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN NYOMAN DI NMR 0 8 5 1 4 5 2 9 7 1 6 7 JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 7X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT